Pesimis Pilpres 2024 Tanpa Harapan Perubahan?

Pilpres

Pemilihan presiden atau yang sering kita dengar dengan sebutan pilpres, merupakan agenda pemilu 5 tahunan sekali, pada kali ini pemilu resmi akan dilaksanakan pada tahun 2024, pada tingkat presiden terdapat 3 calon yang sudah mendaftarkan diri ke KPU komisi pemilihan umum, Adapun nama-nama dari ketiga bakal pasangan capres dan cawapres di Pemilu 2024 adalah Anies Baswedan-Cak Imin, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, dan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming.

Melihat dari 3 nama capres dan cawapres diatas apa yang kita harapkan dari pemilihan presiden 2024? Karena untuk melanjutkan estafet kepemimpinan presiden kedepannya akan lebih berat. Banyak tantangan yang akan dihadapi, dari mulai resesi global, kerusakan lingkungan, perubahan iklim, pengabaian hak asasi manusia, keamanan negara internasional, mempertahankan ekonomi, bahkan dari segi degradasi demokrasi di Indonesia korupsi kolusi nepotisme yang makin merajalela.

Anies Baswedan maju menjadi capres diusung oleh partai Nasdem dan partai keadilan sejahtera (PKS) dua partai yang selama ini menjadi oposisi pemerintahan dimasa Jokowi, lalu ada capres Ganjar Pranowo yang diusung oleh partainya sendiri yaitu PDIP, dan yang terahir ada Prabowo yang di dukung oleh partainya sendiri yaitu Gerindra dan hari ini Jokowi juga condong memberi dukungan keprabowo.

Presiden Jokowi yang akan mengakhiri masa jabatannya pada Oktober tahun depan sudah menjadi kingmaker salah satu bacapres yaitu capres Prabowo Subianto, terlihat dari pada pendukung Pro Jokowi dan koalisi partai besar condong melimpahkan suara keprabowo. Anies memiliki kingmaker Surya Paloh yang merupakan ketua umum Nasdem, seakan Surya Paloh ingin membuat dinastinya sendiri karena selama ini kecewa dengan jalan bersebrangan dengan pemerintah, lalu Ganjar sudah jelas kingmakernya adalah Megawati yang merupakan ketua umum partainya sendiri PDIP, bisa dilihat bahwasanya Megawati ingin mempertahankan posisi strategis kader-kaderya dengan jumlah terbanyak supaya mempermudahkan segala kepentingannya.

Jokowi menginginkan presiden penggantinya dapat menjalankan dan meneruskan program yang sudah dibuat pada masa ia menjabat, betapapun problem dan kontroversi program dan kebijakan tersebut. Ganjar bisa jadi dan bisa tidak akan melanjutkan program Jokowi, walaupun Jokowi merupakan senior Ganjar diPDIP tapi dibalik sosok Ganjar masih ada Megawati, Prabowo bisa jadi akan meneruskan program Jokowi mengingat Prabowo tidak bisa melepaskan fakta untuk berterimakasih kepada Jokowi karena sudah mengajaknya masuk kedalam kabinet, walaupun sudah dua kali berseteru dalam pemilu.

Anies kemungkinan tidak akan melanjutkan program Jokowi melihat Anies dicap sebagai antitesa Jokowi dapat dilihat dari rekam jejak saat menjadi gubernur Jakarta banyak program Jokowi yang tidak dilanjutkan, belum lagi polemik pemecatan Anies sebagai Mentri pendidikan dimasa Jokowi, sosok Anies juga tidak lepas dari bayang-bayang sosok kontroversi yaitu Surya Paloh besar kemungkinan Anies tidak akan melanjutkan program yang sudah dibuat pada masa Jokowi.

Dengan kata lain walaupun presiden berganti pada pemilu 2024 ini, karakter kekuasaan tidak akan berubah. Dikhawatirkan 3 kandidat calon presiden diragukan bisa keluar dari belenggu kebebasan para elit politik, melihat sosok orang-orang dibelakang setiap capres besar kemungkinan perubahan yang diharapkan untuk Indonesia tidak akan pernah terjadi.

Belum lagi setiap capres yang mendaftarkan diri untuk maju memiliki rekam jejak kontroversial masing-masing, Anies tidak dapat dilepaskan dari politik identitas yang membuatkan jalan untuk Anies sehingga ia bisa menjadi gubernur Jakarta pada 2017, Ganjar namanya yang terseret kedalam kasus korusi kartu tanda penduduk elektronik yang diusut oleh komisi pemberantasan korupsi, dan Prabowo memiliki catatan hitam terlibat dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia.

Para calon wakil presiden pula memperkuat pesimisme pada pemerintah selanjutnya, cawapres tersebut ialah, Muhaimin Iskandar yang bersanding dengan Anies, Mahfud MD yang bersanding dengan Ganjar, lalu ada anaknya Jokowi Gibran Rakabuming Raka yang bersanding dengan Prabowo, pradigma melihat kualitas capres seolah capres yang dipilih hanya untuk memenuhi kuota suara dan memenuhi logistik saja, pada Ahirnya politik hanya menjadi ajang akumulasi modal saja.

Kalau tidak ada calon alternatif pada pilpres 2024 ini, sulit untuk diharapkan membuat perubahan, pasalnya ditakutkan para kandidat telah tersandera oleh elit politik yang disebabkan oleh peraturan presidential threshold. Kalau begini pemimpin yang terpilih sepenuhnya akan dikendalikan oleh tim pendukungnya, dapat kita simpulkan bahwasanya apabila hal itu terjadi situasi politik dapat dipastikan tidak akan baik-baik saja.

Memilih atau gak memilih pada pilpres nanti mungkin tidak ada bedanya, karena dengan situasi politik dan indikator poros setiap capres memang potensi membawa perubahan di Indonesia sulit untuk dilakukan, jangan sampai kita terjebak lagi dengan uraiyan janji, amplop dan sembako saja sehingga kita dapat menjual suara kita demi orang yang memikirkan perutnya dan diperalat oleh elit politik yang berada dibelakangnya.

Masyarakat harus cerdas dalam menyikapi pemilu dalam 2024 khususnya pada pemilihan presiden, masa depan Indonesia berada ditangan rakyat, masyarakat hari ini harus independen menilai capres berdasarkan kualitas dan terbukti dengan rekam jejak politiknya, sehingga diharapkan dengan pemimpin yang baik dapat membawa perubahan untuk Indonesia dan dapat mewujudkan Indonesia emas 2045.

 

Tulisan ini oleh Danu Abian Latif – Founder Sekolah Kita Menulis (SKM) Cabang Langsa

Slide Up
x
adbanner