Politik Indonesia Kekanak-kanakan ?

Politik

Memasuki tahun pemilu 2024 eksistensi politik kian meningkat, Tapi dibalik itu semua ada keadaan demokrasi kita cukup memprihatinkan. Dalam beberapa bulan terakhir ini, kita diperlihatkan sesuatu yang tidak baik, ruang publik kini dikotori dengan perilaku kekanak-kanakan oleh sejumlah aktor politik. Seperti saling ejek, saling hina hingga saling tuduh dan saling sindir.

Banyak informasi yang mereka sampaikan sungguh tidak baik, terkesan vulgar karena sering menggunakan kata-kata yang dirasakan sangat kasar oleh orang kebanyakan orang. Hal ini bisa terjadi karena mereka tidak mempunyai kewarasan berpikir dan seolah sifatnya seperti kekanak-kanakan, biasanya orang tersebut ketika berpolitik tidak punya ide dan gagasan, jadi mereka akan berjualan isu dan menyebar fitnah. Kemudian fitnah itu disebar luaskan melalui media sosial (medsos).

Penyebar informasi di dunia maya yang tidak jelas sumbernya itu, jika dianalisis, sangat sedikit yang bertanggung jawab. Kedewasaan demokrasi virtualnya pun belum ada. Buktinya, akunnya noname, serta setiap informasi yang ditampilkan lebih banyak cerita-cerita fitnah. Padahal simpel saja, menang atau kalah itu biasa dalam berpolitik.

Sungguh apa yang kita lihat di permukaan tidak lebih dari perilaku kekanak-kanakan yang diperlihatkan oleh aktor politik kita dan dalam tersebut sama sekali tidak mendidik, juga tidak mencerahkan. Ada yang tidak sungkan untuk berbohong. Lainnya melempar tuduhan, tapi menolak dimintai keterangan. Ada juga yang lancang bicara tentang statistik ekonomi, tapi dengan data yang tidak relevan.

Puncak hal tersebut dapat terjadi dikarenakan ada benturan-benturan yang terjadi di antara para tokoh dan partai politik. Pemilihan umum yang bersamaan dengan pemilihan presiden tahun 2024 sudah di depan mata. Kompetisi partai politik dan calon presiden untuk menjadi pemenang tentu saja akan mengalami benturan.

Benturan tersebut sudah semakin terlihat setidaknya di media sosial. Antara pendukung Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto sudah terlihat saling berbenturan di media sosial. Benturan tidak hanya dua arah, atau tiga arah, bisa lebih. Tapi banyak beberapa golongan aktor politik yang kekanak-kanakan dalam kontestasi pemilu 2024 ini.

Tentu saja masyarakat menunggu resep apa yang akan ditawarkan dari setiap kubu untuk merespons masalah-masalah tersebut. Untuk merumuskan strategi mengatasi masalah-masalah dimaksud, aktor-aktor politik di setiap kubu tidak boleh lagi berperilaku kekanak-kanakan. Perang pernyataan tidak lagi diperlukan karena aktor-aktor politik diminta berpikir keras mencari solusi.

Jangan sampai dendam dan hasrat berkuasa telah membutakan nurani pada elit politik kita. Kita hanyaberharap para elit politik dapat menjadi contoh figur yang berpolitik secara santun, bisa menahan ego pribadi dan ego kelompoknya, serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Dendam adalah tipikal politisi Indonesia. Dendam mencerminkan sikap kenakan-kanakan, bukan sikap negarawan. Hal itu jelas menunjukkan demokrasi Indonesia belum mapan, tapi masih bersifat kekanak-kanakan (childish democracy).

Bertarunglah sesuai koridor-koridor dan konstitusi yang sudah ditetapkan, berkontestasi secara jujur dan adil, karena mau bagaimanapun kita hidup dinegara demokrasi, dalam sistem demokrasi, kedaulatan ada di tangan rakyat. Daulat rakyat kemudian diitipkan kepada wakil-wakil mereka di lembaga perwakilan dan pemimpin yang kemudian didaulat untuk memimpin bangsa dan negara.

Semua itu dijalankan melalui mekanisme pemilihan umum yang diselenggarakan secara terbuka, jujur, dan adil. Siapa pun yang terpilih dalam pemilu, semua pihak, terutama lawan politik, harus menerima dengan legowo. Bukan hanya menerima, tapi menghormati, bahkan membantu sang pemimpin menjalankan roda pemerintahan .

Maka dari pada itu mari bangunlah politik yang dewasa, membenahi negara ini diperlukan tindakan yang serius, jika para aktor politik melakukan sifat kekanak-kanakan untuk mencapai kursi kekuasaan, dapat dipastikan mereka adalah orang-orang yang hanya haus akan jabatan, orang seperti itu biasanya hanya sebuah alat untuk para orang-orang yang mencari keuntungan kelompoknya saja, rakyat nantinya

Jadikan pemilu 2024 ini sebagai pusat pembenahan politik di Indonesia, fokus memberikan edukasi politik yang mencerdaskan, lalu jangan bagi ruang kepada aktor politik Kekanak-kanakan, kita seluruh masyarakat harus ambil andil dalam politik di Indonesia, kita tidak boleh apastis karena masa depan bangsa ini dipertaruhkan dalam pemilu 2024 ini.

 

Tulisan ini oleh Danu Abian Latif – Founder Sekolah Kita Menulis (SKM) Cabang Langsa

Slide Up
x
adbanner